KISAH MASA KINI
SinopsisSepekan setelah ledakan itu menelan tubuhnya, Alisya terbangun dalam kondisi tubuh yang utuh. Ia dan rekan-rekannya di Divisi Gerakan Cepat (DINA) akhirnya diterjunkan kembali untuk mengejar Astro. Pria buron itu menggunakan mesin waktu untuk melempar dirinya ke masa satu milenium ke belakang. Astro membawa kabur giganium. Tanpa benda itu, meriam raksasa yang melindungi wilayah Nusantara tidak dapat berbuat banyak, ketika rombongan asteroid mulai mendekat. Pemerintah Indonesia akhirnya terpaksa menurunkan lima unit mesin tempur dari Masa Koloni untuk menghancurkan asteroid-asteroid tersebut. Serba-serbiKISAH MASA KINI adalah novel pembuka untuk dua seri selanjutnya. Novel ini mengambil seting satu setengah abad setelah Perang Kosmik dan masa tak jauh dari sekarang. Keduanya dihubungkan oleh lorong dari mesin waktu milik sebuah perusahaan bernama Borneolab. ![]() Kover novel KISAH MASA KINI. Sesuai genrenya, cerita ini juga berkisah tentang drama remaja. Persahabatan antara Ilyas dan Sonia, serta dua rekannya yang lain. Mereka memang tidak sadar, tetapi terlibat dalam masalah besar ini. Cuplikan…. “Nih, sebanyak ini.” Kesepuluh jemari tangan Gaya merentang lebar. Rosanti membelalak. Sedikit tak percaya memang, tetapi Gaya adalah sahabatnya semenjak bertugas di Pusat Kesehatan. Hingga kini tidak pernah berbohong. Jika diingat-ingat pun, Gaya sudah berkali-kali masuk Pusat Medis karena luka yang cukup parah. Kesemuanya berhubungan dengan kasus Astro. “Jadi…, kapan kau akan kembali lagi ke sini?” “Hm…, mungkin di luka parah yang lain waktu.” “Aku serius.” “Hah…, entahlah. Mungkin, setelah kasus Astro selesai. Dan aku sendiri tidak tahu kapan akan selesai. Sudah dua tahun.” Keduanya saling menundukkan kepala dan menghela. Dua sejoli yang sering terlihat akrab mengobrol di tiap kesempatan itu merasa bagai saudara kembar, yang harus dipisahkan karena kedua orang tua mereka bercerai. Gaya selayak saudari yang harus ikut dengan ayah. Dua tahun lalu sebelum pindah tugas, Gaya tidak bisa berjalan cepat dengan langkah yang tegap. Hanya kadang, tingkah kanak-kanak miliknya masih muncul, sehingga ia didapuk sebagai putri bungsu di dalam tim. Sementara itu, Rosanti sudah pasti seperti anak yang harus tinggal bersama ibunya. Semenjak pertama kali bertemu, hingga kini Rosanti masih setia dengan seragam biru laut. Langkahnya kecil-kecil. Makanya, ia tadi kesulitan mengejar Gaya meski setelan bawah seragamnya adalah celana panjang. Merasa sahabatnya itu agak keteteran untuk menyeimbangi langkah, Gaya mengangkat sedikit kakinya dari pedal gas. Wajah bayi putih bersinar milik Rosanti juga belum pudar. Bandingkan dengan Gaya yang sudah sawo matang. “Nggak, kok! Kamu masih putih mirip bengkoang,” protes Rosanti suatu hari, ketika Gaya mengeluhkan warna kulitnya yang mulai berpigmen gelap. Misi selama enam bulan di hutan menjadi kambing hitam. “Bengkoang bagaimana?” Gaya menarik lengan Rosanti, menjejerkannya dengan lengan miliknya. Ia ingin memperlihatkan gradasi warna antara kulit lengan miliknya dan Rosanti. “Tuh, kan.” “Cuma beda tipis. Dua bulan tugas di rumah, juga akan seperti bengkoang lagi. Aku ralat pernyataanku tadi, ya? Yang sekarang, kamu lebih mirip kuning langsat.” Dan begitulah, sepertinya setelah lebih dari dua bulan tugas di “rumah” karena kasus Astro dilimpahkan ke polisi, Gaya memperoleh kulit bengkoangnya kembali. “Ngomong-ngomong, kau ingin menjenguk Alisya?” Mereka berdua memasuki sebuah lift. Rosanti menekan tombol 4. Lantai tersebut adalah lantai terakhir milik Pusat Kesehatan. Selebihnya ke atas, hingga lantai dua puluh empat, adalah lantai-lantai milik unit tempur, seperti Unit Pemburu dan Unit Patroli. Pusat Kesehatan memperoleh jatah empat lantai di atas tanah dan dua lantai di bawah tanah, dengan luas lahan per lantainya sekitar tiga kilometer persegi. Pintu lift menutup. Terasa benda itu mulai bergerak naik. “Ya, aku ingin menjenguknya. Bagaimana kabar Alisya sekarang?” “Terakhir kali kuperiksa, kemarin sore keadaannya sudah sangat baik, meski sama sekali ia belum siuman. Semua lukanya sudah sembuh total.” “Wow. Efek fibernetik memang sangat hebat, ya?” giliran Gaya yang berkata seperti itu. Rosanti hanya tersenyum, lalu mencubit bahunya. Gaya meringis, karena bahunya belum sembuh benar. …. |
|
Galeria Dirgita Devina © 2011 Dirgita
Diberdayakan oleh WordPress dan Google Web Fonts