beranda | perihal | legal | kontak

Maaf, Elena Tak Tertolong (Versi Ion)


Rating: Remaja
Lisensi: CC-by-NC-ND
Genre: Drama, Fiksi Ilmiah

Sinopsis

Elena adalah ion (intelligence on net), semacam program komputer yang memiliki kondisi fisik layaknya manusia. Saat menjelajah di Internet, ia terpapar virus mematikan. Satu-satunya cara untuk membersihkan virus tersebut adalah dengan menjalani pembedahan.

Serba-serbi

Cerpen ini mengungkit sisi lain dari dunia seusai Perang Dunia Ketiga rekaan penulis. Pada masa itu, perkembangan robotika cukup pesat dan menghasilkan salah satu teknologi yang bernama ion.

Cuplikan

….

“Kalau dipikir-pikir, masuk akal juga.”

“Masuk akal?” Seno mengernyitkan dahi.

Elena mengangkat tangan kanannya dan memperlihatkan gelang yang tertancap kabel itu.

“Manusia yang diciptakan Tuhan, meskipun tidak dilengkapi USB, masih bisa terserang virus. Apalagi ion sepertiku, yang dilengkapi tidak hanya antarmuka USB.” Mulutnya membulat dan berkata, “Sudah pasti akan lebih parah….”

“Hal itu jangan dibawa pusing, nanti bisa overflow.”

Elena berputar kembali ke bunga mawar yang sudah tertata rapi di dalam vas. Wajahnya hanya tertunduk dan kedua tangannya bertopang di atas meja. Rasa khawatir akhirnya menyergap Seno, ketika gadis itu terus berdiam.

“Kau…, tidak apa-apa, Elena?”

Elena mengangguk kecil. Beberapa tetes air tiba-tiba terlihat jatuh dari kelopak matanya yang menutup.

“Aku… saat ini merasa senang. Aku bahagia karena Seno mau menemaniku. Aku sangat gembira ketika Seno mau menjadi sahabatku. Sebagai ion yang dibuang oleh perusahaan…, aku….”

Seno mendekati Elena yang masih tertunduk. Tetes-tetes air dari matanya terlihat semakin tak terhenti. Bergegas ia menutup wajahnya dengan sebelah tangan. Isaknya menangis kini terdengar jelas.

“Aku memerlukan orang yang bisa kuanggap teman, bahkan keluarga. Dan Seno sudah memberikan itu. Aku sangat sayang pada Seno. Seandainya ada suatu tempat bagi ion humanir di akhirat, aku sangat ingin menunggumu di sana.”

“Elena, sudahlah. Kau akan sembuh.” Seno menuntun Elena untuk duduk di ranjang. Gadis itu menurut, dengan masih menutupi wajahnya. Tangan kanan itu segera ia singkirkan, ketika guncangan kecil di pundaknya mulai lenyap. Air mata yang masih mengalir, ia usap dengan tangan.

“Aku tahu. Ini adalah saat-saat terakhirku….”

….

Berita Terkini
Proyek iRBI -- Indeks Rima Bahasa Indonesia

Penerbit Independen Ndok Asin

Galeria Dirgita Devina © 2011 Dirgita
Diberdayakan oleh WordPress dan Google Web Fonts