Detak Terakhir
SinopsisSira harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya akan meninggal kurang dari satu hari lagi. Jantung yang ia miliki sudah sebegitu lemah, dan harapan untuk hidup lebih lama lagi telah lenyap bertahun-tahun yang lalu. Serba-serbiTerinspirasi dari salah satu lagu Opick dalam album Tombo Ati. Cuplikan…. “Mengapa sekarang dikenakan di leherku?” Kalung tersebut kini telah melingkar elok di leher Sira. “Aku ingin kau tahu batas waktumu. Tiga puluh menit lagi, kau boleh meninggalkan rumah sakit. Gunakan sisa waktu yang ada dengan sebaik-baiknya. Kita mungkin tidak akan berjumpa lagi sampai besok. Aku akan menjumpaimu di rumah sekitar pukul tiga sore.” Sira hanya diam. Melihat kebungkamannya, Dokter Gita lanjut berujar, “Kali ini aku yakin, kau tidak akan berbuat macam-macam seperti kemarin. Kau tidak ingin orang lain repot, kan?” Sira hanya mengangguk. Bibirnya beku untuk mengucapkan sesuatu. Semenjak kalung sang Bibi melingkar di lehernya, beragam rasa di dadanya seakan diaduk-aduk. Belum pernah ia merasa bingung seperti ini. Haruskah menangis? Air matanya tidak mengalir. Haruskah tersenyum? Bibirnya kelu. Ia hanya bisa mengulangi bagaimana cara membuka bandul kalung sang bibi. Rasanya, tidak ada lagi yang harus disampaikan. Dokter Gita segera beranjak menuju pintu. Sebelum tangannya memutar gagang, ia berbalik. “Maaf, aku tidak bisa menemani mengisi waktu.” “Aku tidak ingin merepotkan siapa pun,” Sira akhirnya bersuara. “Bibi punya pekerjaan di sini. Dan itu sangat penting. Lagi pula, besok sore Bibi akan pulang, kan? Tenang saja. Aku akan menikmati hari terakhirku.” Dokter Gita menarik napas, lalu memutar gagang. …. |
|
Galeria Dirgita Devina © 2011 Dirgita
Diberdayakan oleh WordPress dan Google Web Fonts